Tag: Solar Energy Indonesia
PLTS Atap Pabrik Benang di Majalaya, Wujudkan Energi Ramah Lingkungan
Bandung – PT Surya Energi Indotama (SEI) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung transisi energi bersih di sektor industri. Kali ini, SEI baru saja menyelesaikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di area pabrik PT Bintang Indospin Industri, sebuah perusahaan manufaktur benang yang berlokasi di Majalaya, Kabupaten Bandung.
Proyek ini terwujud melalui kerja sama antara PT Surya Energi Indotama sebagai Engineering, Procurement, and Construction (EPC) dan PT Empat Mitra Indika Tenaga Surya (EMITS) sebagai Developer proyek. PLTS Atap dengan kapasitas 802,9 kWp ini menggunakan sistem on-grid, yang secara langsung terkoneksi dengan jaringan listrik utama untuk mendukung kebutuhan operasional pabrik.
Perwakilan PT Bintang Indospin Industri, Aa Hidayat, menyampaikan harapannya agar penerapan energi surya ini dapat membawa efisiensi yang signifikan bagi perusahaan.
“Harapan kami tentu bisa lebih saving energi. Dari segi pengeluaran juga bisa ditekan, terutama dari sisi pembayaran listrik, sehingga dana yang dihemat dapat di alokasikan untuk peningkatan kesejahteraan karyawan,” ujarnya.
Sementara itu, M. Ilyas Asayuti, selaku Pimpinan Proyek dari SEI, menambahkan bahwa keberhasilan proyek ini menjadi langkah nyata dalam mendukung target dekarbonisasi di sektor industri.
“Kami berharap semakin banyak industri, terutama di wilayah Jawa Barat, yang mulai beralih menggunakan PLTS. Selain mendukung efisiensi energi, langkah ini juga membantu mengurangi emisi karbon sebagai bagian dari program pemerintah menuju energi bersih,” jelasnya.
Dengan selesainya proyek ini, SEI terus memperkuat posisi sebagai pionir energi terbarukan di Indonesia, menghadirkan solusi energi berkelanjutan untuk masa depan industri yang lebih hijau dan efisien.
Berita Lainnya
Wattway Solar Road, Kegagalan yang Menginspirasi Riset Energi Terbarukan
Wattwal Solar Road merupakan sebuah proyek ambisius di Prancis yang sempat disebut sebagai masa depan energi terbarukan justru berakhir mengejutkan. Pada 2016, pemerintah Prancis meresmikan Wattway Solar Road, jalan sepanjang 1 kilometer yang dilapisi panel surya dengan klaim mampu menghasilkan listrik hingga 280 MWh per tahun. Energi tersebut ditargetkan cukup untuk menyalakan lampu jalan di sebuah kota kecil berpenduduk sekitar 3.000 jiwa.
Proyek yang menelan biaya sekitar 5 juta euro (setara Rp83 miliar) ini menjadi sorotan dunia, karena disebut sebagai jalan tenaga surya pertama di dunia. Harapannya, inovasi ini bisa membuka jalan baru bagi infrastruktur berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Namun, kenyataan berkata lain. Panel surya yang dipasang di permukaan jalan cepat rusak akibat dilintasi kendaraan berat. Selain itu, permukaan jalan menimbulkan suara bising yang dikeluhkan warga sekitar. Lebih parah lagi, energi yang dihasilkan jauh di bawah target, sementara biaya perawatan melonjak tinggi.
Pada 2020, hanya empat tahun setelah diresmikan, proyek Wattway Solar Road resmi ditutup. Meski dianggap gagal, proyek ini tetap dikenang sebagai pionir dalam eksperimen energi terbarukan. Banyak peneliti menilai Wattway memberi pelajaran penting bahwa tidak semua inovasi dapat langsung diimplementasikan secara luas tanpa kajian teknis mendalam.
Kasus Wattway Solar Road mengingatkan bahwa inovasi besar seringkali datang dengan risiko besar pula. Kegagalannya menjadi refleksi bahwa transisi menuju energi bersih membutuhkan perhitungan matang, uji coba yang berkelanjutan, serta kesiapan teknologi agar benar-benar bisa menghadirkan manfaat nyata.
Nah, kebayang nggak kalau suatu saat teknologi ini sudah matang dan bisa dipakai dengan baik… cocok nggak ya dipasang di jalanan Indonesia?
Sumber: BBC, The Guardian, Le Monde, DetikOto
Berita Lainnya
Kebun Pangan Jupiter Rahayu Tembus 10 Besar Lomba Buruan SAE Kota Bandung
Bandung (10/09/2025) - Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Bandung ke-215 tahun 2025, Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menggelar lomba Buruan SAE yang diikuti oleh 56 kelompok perwakilan dari 30 kecamatan se-Kota Bandung. Dengan 27 kelompok katergori lahan luas dan 29 kelompok kategori lahan sempit. Dimana salah satu yang berhasil lolos hingga tahap finalis 10 besar adalah Kebun Pangan Jupiter Rahayu atau yang dikenal sebagai Buruan SAE Jupiter Rahayu dengan kategori lahan luas.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari kebermanfaatan kebun pangan tersebut bagi masyarakat sekitar. Selain menjadi ruang hijau produktif, kebun ini juga menjadi sumber pangan sehat yang mudah diakses warga, mulai dari sayuran segar, buah-buahan, hingga olahan hasil panen. Masyarakat sekitar aktif terlibat dalam pengelolaan, sehingga keberadaan kebun mampu mempererat kebersamaan dan menumbuhkan rasa kepedulian lingkungan.

Penilaian untuk Kebun Pangan Jupiter Rahayu dilakukan pada hari Senin, 1 September 2025, dengan kehadiran tim penilai dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.
Selain kerapihan administrasi dan penerapan 8 unsur Buruan SAE yang terdiri dari budidaya berbagai jenis sayur, pemeiharaan hewan ternak untuk menghasilkan protein hewani, budidaya ikan, budidaya tanaman obat keluarga (toga), penanaman berbagai macam jenis buah, kegiatan pembibitan tanaman dan ternak, pengelolaan dari hasil panen, dan penanaman berbagai jenis tanaman hias, Kebun Pangan Jupiter Rahayu mendapatkan nilai tambah karena memanfaatkan solar cell di atas saung sebagai pendukung kegiatan, sebuah inovasi ramah lingkungan yang membuat pengelolaan lebih efisien dan berkelanjutan. Serta dukungan dari dan untuk kelompok baik itu pemerintah maupun non pemerintah.
Salah satu pengurus Kebun Pangan Jupiter Rahayu, Tati Suryati, menyampaikan harapanya agar kebun ini menjadi kebun yang mandiri yang dapat memenuhi kebutuhan Masyarakat sekitar.
“Saya berharap atas pencapaian yang sudah di raih menjadikan Kebun Pangan Jupiter Rahayu menjadi kebun yang mandiri yang dapat memenuhi kebutuhan Masyarakat sekitar dan dapat memberdayakan warga untuk semakin peduli terhadap lingkungan."
Perlu diketahui, Kebun Pangan Jupiter Rahayu merupakan salah satu program CSR unggulan SEI yang terus mendorong lahirnya inovasi ramah lingkungan di tengah masyarakat.
Melalui lomba Buruan SAE ini, diharapkan lahir inovasi serta semangat kolaborasi dari masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan keluarga, sekaligus mewujudkan lingkungan yang asri, produktif, serta berdaya guna bagi warga Kota Bandung.**
Berita Lainnya
Satelit Tertua Vanguard 1, Bukti Pertama Energi Surya Bisa Hidup di Luar Angkasa
Sejarah energi terbarukan ternyata tidak hanya dimulai di Bumi, tetapi juga di langit. Satelit Vanguard 1, yang diluncurkan pada 17 Maret 1958, tercatat sebagai satelit pertama di dunia yang menggunakan sel surya sebagai sumber energi di luar angkasa. Pencapaian ini menjadi tonggak bersejarah dalam membuktikan bahwa energi matahari dapat dimanfaatkan untuk menopang teknologi di orbit Bumi.
Satelit berbobot 1,46 kilogram ini merupakan bola aluminium berdiameter 15 cm dengan bentang antena sepanjang 91 cm. Dilengkapi panel surya sederhana yang mampu memberi daya pada pemancarnya. Meski sejak tahun 1964 telah berhenti mengirimkan sinyal dikarenakan suplai daya melemah, satelit ini tetap mengorbit hingga kini menjadikannya satelit buatan tertua yang masih berada di luar angkasa.

“Satelit itu berhenti beroperasi pada 1964, ketika daya dari sel surya tidak lagi cukup untuk menyalakan pemancar,” ujar Matt Bille, analis riset dirgantara dari Booz Allen Hamilton yang memimpin riset skenario penyelamatan Vanguard 1, dikutip dari laporan Space.com, Rabu, 9 April 2025.
Kini, setelah 67 tahun mengitari Bumi, sekelompok ilmuwan, insinyur, dan sejarawan mengusulkan agar Vanguard 1 dibawa pulang. Jika berhasil, satelit ini akan menjadi artefak berharga untuk mempelajari kondisi sel surya, baterai, logam, hingga dampak paparan lingkungan luar angkasa dalam jangka panjang.
“Kami bukan orang pertama yang punya ide ini, dan kami harap bukan yang terakhir,” kata Bille. “Tapi kita harus menunggu dan melihat apakah ada pihak yang memiliki kemampuan untuk menilai apakah nilai historis ini sepadan dengan biayanya.”
Lebih dari sekadar satelit, Vanguard 1 adalah saksi lahirnya era energi surya di luar angkasa. Ia membuktikan bahwa tenaga matahari bisa melampaui batas Bumi sebuah warisan yang terus menginspirasi pengembangan teknologi energi terbarukan hingga hari ini.
Berita Lainnya
SEI Salurkan Bantuan Pendidikan melalui Program Len Go Smart 2025
Bandung (28/08/2025) - Sebagai wujud kepedulian terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia, PT Surya Energi Indotama bersama induk perusahaan PT Len Industri (Persero) beserta anak perusahaan kembali menyalurkan CSR bantuan pendidikan berkualitas Len Go Smart 2025.
Bantuan pendidikan ini diberikan kepada 80 siswa-siswi berprestasi dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari SD, SMP, hingga SMA/SMK.
Kegiatan tersebut dapat terselenggara berkat kolaborasi antara PT Len Industri (Persero) dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat serta Dinas Pendidikan Kota Bandung, sehingga penyaluran bantuan lebih tepat sasaran dan memberikan manfaat langsung bagi para penerima.
Nefi Friyanti, Manager Corporate Secretary SEI, menegaskan bahwa dengan adanya bantuan ini diharapkan para siswa semakin termotivasi untuk mengembangkan diri melalui pendidikan.
“Semoga dengan adanya bantuan pendidikan ini dapat membantu siswa untuk lebih semangat belajar dan memberikan dampak positif lebih besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa,” ujarnya.
SEI juga menaruh harapan besar kepada para penerima bantuan agar dapat memanfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, tidak hanya untuk meraih prestasi akademik, tetapi juga membangun karakter dan semangat juang. Hal ini sejalan dengan tema CSR yang diusung, yaitu “Bersama Cerdaskan Negeri, Wujudkan Indonesia Maju.”
Melalui program CSR Bantuan Pendidikan Berkualitas Len Go Smart 2025, SEI bersama Len berkomitmen terus mendukung lahirnya generasi cerdas, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
Berita Lainnya
Panel Surya dengan Desain Unik di Dunia: Saat Energi Hijau Bertemu Kreativitas
Haii Teman SEInergi pernah gak sih kamu ngebayangain ada bunga raksasa yang mekar saat matahari terbit, lalu mengikuti perjalanannya dari timur ke barat sambil menghasilkan Listrik? Yaa itu asli ada didunia nyata, bukan adegan film fiksi.

Namanya Smartflower, panel surya berbentuk bunga matahari yang lahir di Austria. Dikutip dari website smartflower, alat ini mampu menghasilkan energi lebih efisien. Dalam satu unit smartflower sudah dilengkapi inverter, baterai, dan sistem pembersihan otomatis.

Uniknya, Smartflower bukan satu-satunya karya kreatif dunia energi surya. Di Jepang, berdiri megah Solar Ark, bangunan berbentuk kapal raksasa sepanjang 315 meter dan tinggi 37 meter, berisi lebih dari 5.000 panel surya, menghasilkan listrik hingga 530.000 kWh per tahun. Pada malam hari, struktur ini dihiasi cahaya LED, menjadikannya landmark yang tak hanya ramah lingkungan, tapi juga memikat wisatawan. Lebih dari sekadar pembangkit listrik, Solar Ark juga difungsikan sebagai museum edukasi energi. Meski sempat direncanakan untuk dihancurkan pada tahun 2022, Solar Ark tetap menjadi simbol inovasi energi terbarukan Jepang.

Tak kalah menarik, di Seattle, Amerika Serikat, ada Sonic Bloom instalasi seni publik berupa lima bunga raksasa setinggi lebih dari 12 meter yang dilengkapi panel surya di “kelopaknya”. Siang hari, panel-panel ini menyerap energi matahari, lalu malamnya energi tersebut dipakai untuk menyalakan pertunjukan cahaya yang indah. Bahkan, setiap bunganya juga mengeluarkan bunyi khas saat pengunjung mendekat, menjadikannya kombinasi unik antara seni, teknologi, dan interaktivitas.
Semua desain unik ini mengajarkan satu hal, energi bersih tak harus kaku. Dengan kreativitas, panel surya bisa tampil memesona, punya nilai edukasi, hingga jadi ikon arsitektur.
Lalu pertanyaannya, panel surya mana yang paling menarik menurutmu Teman SEINergi ?
Sumber : Sanspower.com, inhabitat.com, seattle.gov, Solarpowerauthority.com
Berita Lainnya
SEI Rampungkan Proyek PLTS Ground Mounted di Kawasan PLN-PLTGU Keramasan, Palembang
Palembang (19/08/2025) - PT Surya Energi Indotama (SEI) kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan energi bersih di Indonesia dengan menyelesaikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Ground Mounted berkapasitas 1.670 kWp di Kawasan PLN-PLTGU Keramasan, Palembang, Sumatera Selatan.
Proyek ini dilaksanakan dengan PT PLN Geothermal Indonesia sebagai pengguna (user) dan PT PLN UBP Keramasan sebagai (end user) yang akan secara langsung merasakan manfaatnya. Kehadiran PLTS ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja operasional kawasan pembangkit sekaligus mendukung upaya pengurangan emisi dengan penerapan teknologi ramah lingkungan yang sudah diterapkan sebelumnya.
Lebih dari itu, PLTS Ground Mounted Keramasan juga memberikan kontribusi nyata dalam memenuhi kebutuhan energi listrik di wilayah Sumatera Selatan, sejalan dengan upaya pemerintah dan PLN dalam memperkuat ketahanan energi nasional serta mendorong transisi menuju energi berkelanjutan.
Berita Lainnya
Perkuat SDM, SEI Gelar Pelatihan Power System, HSE, dan MAE Basic
Bandung (14/08/2025) — Sebagai bentuk komitmen perusahaan dalam meningkatkan kompetensi teknis dan keselamatan kerja tenaga teknis maupun operasional di lapangan, SEI resmi menggelar pelatihan Power System, Health, Safety, and Environment (HSE), dan Managed Automation Engine (MAE) Basic yang diikuti oleh Tim SEI, BAKTI Komdigi dan Huawei yang bertempat di salah satu hotel di kota Bandung.
Turut hadir Manager Operation and Maintenance SEI, Davin Yuan beserta jajaran, Henry Suseno perwakilan dari BAKTI Komdigi beserta jajaran, Tim Project Management Office (PMO), Asnely Ahmad perwakilan dari Huawei beserta jajaran, serta seluruh peserta yang antusias mengikuti rangkaian kegiatan.
Dalam sambutannya, Manager Operation and Maintenance SEI, Davin Yuan menyampaikan bahwa pelatihan ini difokuskan pada tiga materi utama:
- Power System yang akan memberikan pemahaman komprehensif tentang sistem kelistrikan.
- HSE (Health, Safety, and Environment) yang mengedepankan keselamatan kerja dan kepedulian terhadap lingkungan, serta
- MAE Basic (Managed Automation Engine) yang merupakan dasar evaluasi dan pengawasan proyek yang efektif.
“Melalui pelatihan ini, kami berharap para peserta mampu meningkatkan keterampilan teknis, memahami standar keselamatan kerja, dan menguasai kemampuan monitoring serta evaluasi proyek, sehingga dapat berkontribusi maksimal pada keberhasilan operasional,” ujarnya.
SEI juga memberikan apresiasi kepada BAKTI Komdigi dan Tim PMO yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan ini hingga selesai.
Pelatihan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia, memastikan setiap proyek berjalan aman, efisien, dan sesuai standar yang berlaku.
Berita Lainnya
Tinjau Kesiapan Pasokan Energi, SEI Sambut Komisi XII DPR RI di Kupang
Kupang, NTT (11/08/2025) — Komisi XII DPR RI melakukan kunjungan kerja Reses ke Independent Power Producer (IPP) Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Oelpuah Kupang, Nusa Tenggara Timur, dalam rangka meninjau kesiapan pasokan energi serta menggali potensi dan pengelolaan energi baru dan terbarukan di wilayah ini.
Kunjungan tersebut dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, bersama jajaran anggota Komisi XII. Hadir pula Direktur Utama SEI, I Made Sandika Dwiantara, Direktur Pemasaran dan Pengembangan Bisnis SEI, Khanestyo, Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM RI, serta perwakilan mitra strategis dari PT PLN (Persero), PT Sokoria Geothermal Indonesia, PT Geo Dipa Energi, dan PT Pertamina Geothermal Energi.

Setibanya di lokasi, rombongan diarahkan meninjau langsung area PLTS. Direktur Utama SEI, I Made Sandika Dwiantara, memaparkan gambaran umum PLTS Oelpuah Kupang salah satunya disampaikan bahwa PLTS ini telah beroperasi selama sembilan tahun.
“Hingga saat ini, PLTS telah beroperasi selama 9 tahun, membuktikan komitmen kami dalam menyediakan pasokan energi bersih yang berkelanjutan bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.
Antusiasme terlihat dari rombongan atas penjelasan tersebut, mengingat PLTS Oelpuah Kupang menjadi salah satu proyek strategis penyediaan energi bersih di NTT.
Dalam kesempatan itu, Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, menegaskan potensi besar NTT sebagai sentra energi surya nasional.
“NTT sangat ideal karena curah matahari dan tingkat iradiasi di sini sangat tinggi. Indonesia sangat membutuhkan ini. Ke depan, nasib bangsa salah satunya ada di tangan NTT. Kita akan kembangkan wilayah ini menjadi pusat panel surya, terlebih sudah ada studi komprehensif sebelumnya,” ungkapnya.

Usai peninjauan lapangan, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab di ruang pertemuan. Dalam diskusi tersebut, para pihak menyampaikan komitmen bersama untuk memperkuat pengembangan EBT di NTT, sekaligus mendorong investasi dan inovasi teknologi.
Menutup kunjungan, Komisi XII DPR RI menyampaikan harapannya agar NTT dapat menjadi role model pengelolaan energi surya di Indonesia. Dengan dukungan regulasi, infrastruktur, dan kerja sama lintas sektor, NTT diharapkan mampu menjadi pusat produksi energi bersih yang tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga menopang ketahanan energi nasional.
Berita Lainnya
Komitmen Terhadap Digitalisasi, SEI Launching Fitur Baru E-Office Dan Closing Ceremony ERP
Bandung (31/07/2025) - Setelah lebih dari satu tahun bermitra dalam proyek re-implementasi ERP, SEI bersama konsultan teknologi informasi, PT Asia Global Solusi (AGS), secara resmi menutup rangkaian tersebut melalui acara Go-Live & Project Closing Ceremony ERP yang diselenggarakan di kantor SEI.
Acara ini menjadi momentum bagi SEI karena menandai penyerahan penuh kendali operasional sistem ERP dari AGS kepada tim internal SEI. Turut hadir dalam acara ini, Direktur Utama SEI, I Made Sandika Dwiantara, Direktur Keuangan, Manajemen Risiko dan SDM SEI, Yuntoro Prakoso Wibowo beserta jajaran struktural lainya. Dari pihak AGS, hadir Direktur Pemasaran AGS, Felix Niode, Project Manager AGS, Eddy beserta jajaran.
Dalam sambutannya, Direktur Utama SEI, I Made Sandika Dwiantara, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas kerja sama dan pendampingan yang telah diberikan oleh AGS selama proses implementasi berlangsung. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan proyek ini mencerminkan keseriusan perusahaan dalam melangkah ke arah digital.
“Re-implementasi ERP ini adalah bentuk nyata dari komitmen SEI dalam melakukan transformasi digital di seluruh lini bisnis,” ujarnya.
Menjawab hal tersebut, Manajemen AGS, Felix Niode menyampaikan bahwa keberhasilan proyek ini merupakan hasil dari kerja sama lintas fungsi di dalam perusahaan, terutama dukungan dari level manajemen atas.
“Tanpa komitmen dan dukungan penuh dari top management, setiap implementasi teknologi tidak akan berjalan optimal,” jelasnya.

Penutupan proyek ini sekaligus menandai bahwa SEI kini telah sepenuhnya memegang kendali atas sistem ERP, yang sebelumnya masih dalam masa pemantauan dan pendampingan oleh tim AGS.
Dalam kesempatan yang sama, Koordinator Tim ERP SEI sekaligus Manager Information System, Yoga Aradea, secara resmi mengumumkan peluncuran fitur terbaru SEI Office. Kehadiran SEI Office ini menjadi pelengkap dari sistem ERP, yang tidak hanya menyajikan data dalam bentuk angka, tetapi juga menyajikannya dalam bentuk visual yang lebih informatif dan mudah dipahami oleh pengguna.
Yoga menjelaskan beberapa fitur utama SEI OFFICE, di antaranya: Dashboard Project, Dashboard Project Planning, Tender Calendar, Manajemen Risiko, Dokumen Perusahaan, Event & Kegiatan(untuk reservasi ruang rapat), Kendaraan Operasional (untuk reservasi kendaraan dinas)
Yoga menambahkan bahwa peluncuran SEI OFFICE sekaligus penutupan proyek ERP ini menjadi simbol keberhasilan perusahaan dalam mengadopsi transformasi digital.
“Keberhasilan ini bukanlah hasil kerja satu unit saja, melainkan hasil kolaborasi dan sinergi dari seluruh unit kerja. Karena kita saling terhubung satu sama lain,” ungkapnya.
Dengan selesainya implementasi ERP dan kehadiran SEI OFFICE, SEI menegaskan langkah nyatanya dalam menghadirkan sistem yang terintegrasi, efisien, dan adaptif terhadap tuntutan digitalisasi masa kini. Transformasi ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang perubahan budaya kerja yang lebih terbuka, kolaboratif, dan berbasis data.**