(022) 42830750 [email protected]
Media Sosial :
Wattway Solar Road, Kegagalan yang Menginspirasi Riset Energi Terbarukan

Wattway Solar Road, Kegagalan yang Menginspirasi Riset Energi Terbarukan

Wattwal Solar Road merupakan sebuah proyek ambisius di Prancis yang sempat disebut sebagai masa depan energi terbarukan justru berakhir mengejutkan. Pada 2016, pemerintah Prancis meresmikan Wattway Solar Road, jalan sepanjang 1 kilometer yang dilapisi panel surya dengan klaim mampu menghasilkan listrik hingga 280 MWh per tahun. Energi tersebut ditargetkan cukup untuk menyalakan lampu jalan di sebuah kota kecil berpenduduk sekitar 3.000 jiwa.

Proyek yang menelan biaya sekitar 5 juta euro (setara Rp83 miliar) ini menjadi sorotan dunia, karena disebut sebagai jalan tenaga surya pertama di dunia. Harapannya, inovasi ini bisa membuka jalan baru bagi infrastruktur berkelanjutan sekaligus mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Namun, kenyataan berkata lain. Panel surya yang dipasang di permukaan jalan cepat rusak akibat dilintasi kendaraan berat. Selain itu, permukaan jalan menimbulkan suara bising yang dikeluhkan warga sekitar. Lebih parah lagi, energi yang dihasilkan jauh di bawah target, sementara biaya perawatan melonjak tinggi.

Pada 2020, hanya empat tahun setelah diresmikan, proyek Wattway Solar Road resmi ditutup. Meski dianggap gagal, proyek ini tetap dikenang sebagai pionir dalam eksperimen energi terbarukan. Banyak peneliti menilai Wattway memberi pelajaran penting bahwa tidak semua inovasi dapat langsung diimplementasikan secara luas tanpa kajian teknis mendalam.

Kasus Wattway Solar Road mengingatkan bahwa inovasi besar seringkali datang dengan risiko besar pula. Kegagalannya menjadi refleksi bahwa transisi menuju energi bersih membutuhkan perhitungan matang, uji coba yang berkelanjutan, serta kesiapan teknologi agar benar-benar bisa menghadirkan manfaat nyata.

Nah, kebayang nggak kalau suatu saat teknologi ini sudah matang dan bisa dipakai dengan baik… cocok nggak ya dipasang di jalanan Indonesia?

Sumber: BBC, The Guardian, Le Monde, DetikOto

Kebun Pangan Jupiter Rahayu Tembus 10 Besar Lomba Buruan SAE Kota Bandung

Kebun Pangan Jupiter Rahayu Tembus 10 Besar Lomba Buruan SAE Kota Bandung

Bandung (10/09/2025) - Dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Bandung ke-215 tahun 2025, Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menggelar lomba Buruan SAE yang diikuti oleh 56 kelompok perwakilan dari 30 kecamatan se-Kota Bandung. Dengan 27 kelompok katergori lahan luas dan 29 kelompok kategori lahan sempit. Dimana salah satu yang berhasil lolos hingga tahap finalis 10 besar adalah Kebun Pangan Jupiter Rahayu atau yang dikenal sebagai Buruan SAE Jupiter Rahayu dengan kategori lahan luas.

Keberhasilan ini tidak terlepas dari kebermanfaatan kebun pangan tersebut bagi masyarakat sekitar. Selain menjadi ruang hijau produktif, kebun ini juga menjadi sumber pangan sehat yang mudah diakses warga, mulai dari sayuran segar, buah-buahan, hingga olahan hasil panen. Masyarakat sekitar aktif terlibat dalam pengelolaan, sehingga keberadaan kebun mampu mempererat kebersamaan dan menumbuhkan rasa kepedulian lingkungan.

Penilaian untuk Kebun Pangan Jupiter Rahayu dilakukan pada hari Senin, 1 September 2025, dengan kehadiran tim penilai dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.

Selain kerapihan administrasi dan penerapan 8 unsur Buruan SAE yang terdiri dari budidaya berbagai jenis sayur, pemeiharaan hewan ternak untuk menghasilkan protein hewani, budidaya ikan, budidaya tanaman obat keluarga (toga), penanaman berbagai macam jenis buah, kegiatan pembibitan tanaman dan ternak, pengelolaan dari hasil panen, dan penanaman berbagai jenis tanaman hias, Kebun Pangan Jupiter Rahayu mendapatkan nilai tambah karena memanfaatkan solar cell di atas saung sebagai pendukung kegiatan, sebuah inovasi ramah lingkungan yang membuat pengelolaan lebih efisien dan berkelanjutan. Serta dukungan dari dan untuk kelompok baik itu pemerintah maupun non pemerintah.

Salah satu pengurus Kebun Pangan Jupiter Rahayu, Tati Suryati, menyampaikan harapanya agar kebun ini menjadi kebun yang mandiri yang dapat memenuhi kebutuhan Masyarakat sekitar.

“Saya berharap atas pencapaian yang sudah di raih menjadikan Kebun Pangan Jupiter Rahayu menjadi kebun yang mandiri yang dapat memenuhi kebutuhan Masyarakat sekitar dan dapat memberdayakan warga untuk semakin peduli terhadap lingkungan."

Perlu diketahui, Kebun Pangan Jupiter Rahayu merupakan salah satu program CSR unggulan SEI yang terus mendorong lahirnya inovasi ramah lingkungan di tengah masyarakat.

Melalui lomba Buruan SAE ini, diharapkan lahir inovasi serta semangat kolaborasi dari masyarakat dalam menjaga ketahanan pangan keluarga, sekaligus mewujudkan lingkungan yang asri, produktif, serta berdaya guna bagi warga Kota Bandung.**

Satelit Tertua Vanguard 1, Bukti Pertama Energi Surya Bisa Hidup di Luar Angkasa

Satelit Tertua Vanguard 1, Bukti Pertama Energi Surya Bisa Hidup di Luar Angkasa

Sejarah energi terbarukan ternyata tidak hanya dimulai di Bumi, tetapi juga di langit. Satelit Vanguard 1, yang diluncurkan pada 17 Maret 1958, tercatat sebagai satelit pertama di dunia yang menggunakan sel surya sebagai sumber energi di luar angkasa. Pencapaian ini menjadi tonggak bersejarah dalam membuktikan bahwa energi matahari dapat dimanfaatkan untuk menopang teknologi di orbit Bumi.

Satelit berbobot 1,46 kilogram ini merupakan bola aluminium berdiameter 15 cm dengan bentang antena sepanjang 91 cm. Dilengkapi panel surya sederhana yang mampu memberi daya pada pemancarnya. Meski sejak tahun 1964 telah berhenti mengirimkan sinyal dikarenakan suplai daya melemah, satelit ini tetap mengorbit hingga kini menjadikannya satelit buatan tertua yang masih berada di luar angkasa.

“Satelit itu berhenti beroperasi pada 1964, ketika daya dari sel surya tidak lagi cukup untuk menyalakan pemancar,” ujar Matt Bille, analis riset dirgantara dari Booz Allen Hamilton yang memimpin riset skenario penyelamatan Vanguard 1, dikutip dari laporan Space.com, Rabu, 9 April 2025.

Kini, setelah 67 tahun mengitari Bumi, sekelompok ilmuwan, insinyur, dan sejarawan mengusulkan agar Vanguard 1 dibawa pulang. Jika berhasil, satelit ini akan menjadi artefak berharga untuk mempelajari kondisi sel surya, baterai, logam, hingga dampak paparan lingkungan luar angkasa dalam jangka panjang.

“Kami bukan orang pertama yang punya ide ini, dan kami harap bukan yang terakhir,” kata Bille. “Tapi kita harus menunggu dan melihat apakah ada pihak yang memiliki kemampuan untuk menilai apakah nilai historis ini sepadan dengan biayanya.”

Lebih dari sekadar satelit, Vanguard 1 adalah saksi lahirnya era energi surya di luar angkasa. Ia membuktikan bahwa tenaga matahari bisa melampaui batas Bumi sebuah warisan yang terus menginspirasi pengembangan teknologi energi terbarukan hingga hari ini.

PT Surya Energi Indotama Kontak Kami:
Surya Energi Indotama

PT Surya Energi Indotama

PT Surya Energi Indotama (SEI) berdiri pada tanggal 6 Desember 2007 dan diambil alih sebagai anak perusahaan dari PT Len Industri (Persero) pada 14 Januari 2009.