(022) 42830750 [email protected]
Media Sosial :
Indonesia Bangun AI Factory 1GW, Setara Dengan Kebutuhan Listrik Satu Pulau Bali

Indonesia Bangun AI Factory 1GW, Setara Dengan Kebutuhan Listrik Satu Pulau Bali

Di balik pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), ada satu kebutuhan fundamental yang tidak bisa diabaikan: energi. Bahkan, pembangunan infrastruktur AI Factory berkapasitas hingga 1 GW di Indonesia membuka peluang besar sekaligus menjadi ujian bagi kesiapan ekosistem energi nasional.

Besarnya kapasitas tersebut menjadi perhatian karena jauh melampaui kebutuhan tahap awal yang diproyeksikan mencapai 200 MW.

Melansir laman Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia, Minggu (9/8/2026), pembangunan tahap awal AI Factory ditargetkan dimulai pada 2027 di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Fasilitas ini merupakan hasil kolaborasi Indosat Ooredoo Hutchison, Ooredoo Group, Nokia, dan NVIDIA untuk mengembangkan infrastruktur komputasi kecerdasan buatan berskala besar.

Pengembangannya tidak berhenti pada kapasitas awal. Secara bertahap, fasilitas tersebut akan ditingkatkan hingga mencapai 1 GW dalam tiga tahun mendatang.

Lantas, mengapa sebuah fasilitas AI membutuhkan listrik hingga 1 GW?

1.  Skalanya setara dengan kebutuhan listrik yang sangat besar.

Daya 1 GW merupakan kapasitas yang masif, bahkan hampir setara dengan beban puncak konsumsi listrik seluruh wilayah Bali yang mencapai 1,3 hingga 1,4 GW.

2. Kebutuhan komputasi yang sangat tinggi.

AI Factory akan mengoperasikan ribuan chip komputasi mutakhir, seperti NVIDIA GB300 NVL72. Chip-chip tersebut dirancang untuk memproses triliunan data dan algoritma secara terus-menerus. Intensitas komputasi ini membuat konsumsi energinya jauh lebih tinggi dibandingkan pusat data konvensional.

3. Kebutuhan sistem pendingin.

Komputasi tingkat tinggi menghasilkan panas dalam jumlah besar. Karena itu, sebagian signifikan dari kebutuhan daya harus digunakan untuk menjalankan sistem cooling berskala raksasa guna menjaga temperatur server dan mencegah terjadinya overheating.

Besarnya kebutuhan energi tersebut menunjukkan bahwa perkembangan AI bukan hanya persoalan teknologi dan komputasi. Di belakangnya terdapat kebutuhan akan infrastruktur energi yang kuat, stabil, dan mampu beroperasi secara berkelanjutan.

Langkah ambisius pembangunan AI Factory ini sekaligus menempatkan Indonesia sebagai calon pemain penting dalam ekosistem AI global di kawasan Asia Pasifik. Namun, peluang tersebut berjalan beriringan dengan tantangan besar: kesiapan penyedia listrik dalam menjamin pasokan yang stabil, sekaligus memastikan kebutuhan energi masyarakat di wilayah sekitar tetap terpenuhi.

Pada akhirnya, semakin canggih teknologi yang dibangun, semakin besar pula energi yang dibutuhkan untuk menghidupkannya. Karena itu, perjalanan menuju ekosistem AI berskala besar tidak hanya membutuhkan kecanggihan komputasi, tetapi juga kesiapan ekosistem energi yang mampu menopangnya.

Portable Power Station, Produk pengembangan Len, SEI dan TNI AU

Portable Power Station, Produk pengembangan Len, SEI dan TNI AU

Bandung (11/9/2026) — Kebutuhan listrik di lapangan tidak selalu datang bersama akses jaringan listrik. Dalam kondisi tertentu, dibutuhkan sumber energi yang dapat dibawa, digunakan secara fleksibel, sekaligus mampu mendukung aktivitas operasional.

Menjawab kebutuhan tersebut, Len dan SEI, berkolaborasi dengan Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI Angkatan Udara (Dislitbangau) mengembangkan Portable Power Station Tenaga Surya.

Inovasi ini menggabungkan panel surya lipat 3.200 Wp, inverter, dan Battery Energy Storage System (BESS) berkapasitas 10,24 kWh dalam sebuah sistem portabel dengan kapasitas daya hingga 4.000 Watt.

Tidak hanya menghasilkan listrik, sistem ini dirancang untuk menghadirkan sumber energi yang lebih mandiri dan ramah lingkungan. Pemanfaatan energi matahari memungkinkan kebutuhan listrik di lapangan dipenuhi tanpa ketergantungan pada bahan bakar minyak.

Hasil pengembangan tersebut diperkenalkan dalam kegiatan yang berlangsung di Lapangan Widya Aksantara Dislitbangau, Bandung, Rabu (9/9/2026), dan disaksikan oleh Marsma TNI Rachmadi Anggoro, S.E., M.Sc., M.S.S.

Kolaborasi SEI dan Dislitbangau menjadi langkah dalam menghadirkan pemanfaatan teknologi energi terbarukan yang lebih fleksibel untuk mendukung kebutuhan sektor pertahanan, sekaligus membuka peluang pemanfaatan energi surya pada berbagai kondisi dan lokasi yang membutuhkan sumber listrik mandiri.

PT Surya Energi Indotama Kontak Kami:
Surya Energi Indotama

PT Surya Energi Indotama

PT Surya Energi Indotama (SEI) berdiri pada tanggal 6 Desember 2007 dan diambil alih sebagai anak perusahaan dari PT Len Industri (Persero) pada 14 Januari 2009.